Bukti begitu melekatnya MISTIS di negeri ini
Santet dan KPK Sakti
Jakarta - KPK ditaburi bunga. Ada ceceran garam. Juga
tanah (kuburan). Benarkah KPK disantet? Mempankah kalau itu benar-benar
sesaji untuk mencelakai? Selagi niat dan batin anggota KPK baik,
kalaulah itu santet, justru pengirimnya yang akan celaka. Insyaallah KPK
sakti.
Tangkap tangan Akil Mochtar, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), membuat
shock. Garda terakhir pengawasan itu runtuh. Apalagi kasus ini sepaket.
Ada Chairun Nisa, wakil rakyat. Juga Ratu Atut, adiknya, dan pengacara.
Ini bak yudikatif sebelum ketok palu difasilitasi legislatif,
mengakomodasi eksekutif, maka lahirlah uang yang bisa untuk membeli
segala-galanya.
Kasus ini membuat rakyat semakin tidak percaya bahwa di negeri ini masih
ada pejabat yang baik dan amanah. Itu bukan semata karena kasus Akil
saja. Setumpuk penyimpangan datang bergantian. Timbul tenggelam. Dan
kasus Akil seperti vonis akhir, justifikasi, bahwa penegak hukum di
negeri ini memang gampang dibeli.
Perkara yang membuat orang ternganga-nganga saking 'gilanya' kasus ini
sekarang sedang bergulir. Kita ikuti prosesi panjang yang melahirkan
sekuel-sekuel dari 'pengadilan gelap' itu. Bakal banyak hadir fakta
unik, lucu dan menggemaskan. Dan itu akan seperti reality show yang
miris karena terjadi dalam ranah hukum.
Yang menarik, di tengah perkara ini ada penggalan cerita yang tidak
logis tapi diyakini ada. Santet! KPK disantet. Isu itu santer berhembus,
ketika institusi ini mencegah Gubernur Banten Ratu Atut dan menetapkan
adiknya sebagai tersangka suap pilkada. Isu itu seperti mendakwa, bahwa
fakta hukum itu akan dilawan melalui mistik. Fakta versus fiksi?
Banten dalam peta mistik tak jauh dengan Banyuwangi di Jawa Timur. Dua
daerah ini dipercaya kaya dengan budaya itu. Sama-sama memiliki 'hutan
larangan', sama-sama punya suku mempertahankan tradisi. Dan sama-sama
punya keyakinan, bahwa metafisis adalah hal lain yang memberi kekuatan
sekaligus kekuasaan bagi pengamalnya.
Yang membedakan mistik ujung timur dan ujung barat Pulau Jawa itu hanya
pada dasar keyakinan pengamalnya. Jika di ujung timur lebih bernuansa
Jawa dengan Kejawen (sinkretis), maka di ujung barat mengental dengan
Islamnya. Itu pula yang membedakan dalam aplikasi mistik pun doa serta
sarana (uborampe) yang digunakan.
Santet memang ada bagi yang percaya. Bagi pemeluk agama samawi (Islam,
Kristen, Yahudi), itu masuk dalam kegaiban yang wajib diyakini.
Dikategorikan sebagai perbuatan syirik dan musyrik karena menyekutukan
Tuhan dan berkolaborasi dengan setan. Dan dalam agama ini perbuatan itu
dianggap dosa besar karena dilakukan untuk mencelakai.
Di beberapa daerah, santet banyak dipraktikkan. Media yang dipakai
macam-macam. Dan sarana untuk menunjuk korban memakai berbagai cara.
Memang ada yang menggunakan bunga sebagai media 'menumbalkan' korban.
Tanah dari kuburan untuk 'membunuh' sasaran. Juga garam yang dipercaya
berkhasiat membuat korban sakit.
Namun sebagai 'ilmu hitam', santet masuk kategori sebagai ilmu
kanoragan. Fisik. Bersifat wadak. Ilmu ini dalam peta mistik merupakan
ilmu 'paling rendah', tetapi amat manjur jika sasarannya adalah manusia
yang mempunyai kerendahan budi dan pekerti. Jika calon korban tidak
bersih hati dan bersih pikiran, percaya dengan kekuatan mistik-mistik,
maka dia akan jadi sasaran empuk.
Sebaliknya, orang yang baik budi pekertinya, selalu berprasangka baik
dengan orang lain, rendah hati, penolong dan pemaaf, akan sangat sulit
untuk terkena santet. Dia adalah orang yang dilindungi. Orang yang
terselamatkan, yang dalam idiom Jawa, orang sakti yang sebenar-benar
sakti.
Dalam agama Islam pun, orang teraniaya yang doanya makbul itu bukanlah
koruptor, bajingan, atau rampok yang meratap pilu ketika tertangkap.
Orang teraniaya itu adalah orang yang melakukan taubatan nasuha. Tobat
sebenar-benar tobat karena menyadari dosa-dosanya besar. Mereka inilah
yang segala permintaannya dikabulkan Allah.
Jika sekarang banyak guru dan ustad, kiai dan santri korupsi yang
menjijikkan, itu bukanlah jenis manusia teraniaya yang doa dan jerit
tangisnya terkabulkan. Itu adalah azab. Laknat Allah. Syukur setelah ini
sadar dan memanfaatkan kesempatan yang diberi Tuhan untuk kembali ke
jalan benar.
Terus bagaimana dengan isu santet yang ditujukan ke KPK? Benarkah itu
akan membuat celaka orang-orang yang mengabdi di institusi ini? Memang
ilmu hitam itu aplikatif. Tapi itu tidak akan mengalahkan 'ilmu putih'.
Ilmu yang tidak perlu dipelajari tapi dijalani. Berbuat baiklah.
Berpikir baiklah. Berprasangka baiklah di mana saja, insyaallah akan
menjadi orang sakti mandraguna.
Yang memprihatinkan, kasus-kasus korupsi itu seperti menunjukkan, bahwa
negeri ini sedang menuju zaman jahiliyah, zaman kalabendu, zaman
kegelapan. Negeri ini masih jauh untuk menapaki zaman kecerahan, zaman
kalasuba. Sebab tanda-tanda menuju zaman keemasan itu belum tampak, yang
salah satunya ditandai dengan tampilnya pendeta bersabuk tanah. Kiai
atau tokoh agama yang berani mati demi kebenaran. Semua sekarang sedang
terkena euforia, ramai-ramai mengumpulkan harta. Tak perduli harta itu
hasil merampok atau maling.
Sorry terpaksa banyak omong mistik, dunia antah-berantah, karena contoh kebaikan nyata ternyata semakin sulit didapat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar